SINGA YANG BAHAGIA

Louise Fatio, Gambar oleh Roger Duvoisin

Terjemahan Bayumurti Dwi Akoso
Sponsor Yayasan HaLim (yayasanhalim.org) 2016

Dulu, ada seekor singa yang sangat bahagia.

Rumah dia bukan di dataran yang panas dan berbahaya di Afrika, dimana  pemburu-pemburu  menunggu dengan  senjata mereka. tetapi  di sebuah kota di Perancis, genting berwarna cokelat dan jendela abu-abu. Singa yang bahagia itu mempunyai rumah untuk dia di kebun binatang kota, dan rumah itu sepenuhnya hanya untuknya. Rumah itu dilengkapi dengan taman bebatuan yang besar, yang dikelilingi oleh parit, dan terletak di tengah sebuah taman dengan hamparan bunga serta sebuah panggung.

Setiap pagi, Francois, anak laki-laki dari penjaga kandang itu, berhenti sejenak dari perjalanannya ke sekolah menyambut  "Bonjour (Halo), Singa yang Bahagia."

Lalu, di sore hari, Tuan Dupont, sang kepala sekolah, berhenti sejenak dari perjalanannya pulang menyambut "Halo, Singa yang Bahagia."

Pada malam hari, ibu Pinson, yang merajut di bangku taman sepanjang hari di dekat panggung, tidak pernah pergi tanpa mengucapkan "Au revoir (Sampai jumpa lagi), Singa yang Bahagia."

Setiap hari Minggu di musim panas, kelompok musik kota itu pentas di panggung, memainkan musik waltz dan polka. Dan singa yang bahagia itu memejamkan mata sambil mendengarkan. Dia senang mendengar musik.

Semua orang adalah temannya, dan mereka datang untuk mengucapkan "Bonjour" dan menawarkan daging serta camilan lain yang enak.

Singa itu memang singa yang bahagia.

Pada suatu pagi, singa yang bahagia itu menemukan bahwa penjaganya lupa menutup pintu rumahnya. "Hmm," kata singa itu. "Aku tidak suka ini. Siapapun bisa masuk ke sini." "Oh, tidak apa-apa" lanjutnya setelah berpikir, "mungkin aku akan berjalan-jalan keluar sendiridan menemui teman-temanku di kota. Alangkah baiknya jika aku membalas kunjungan-kunjungan mereka selama ini."

 Lalu singa yang bahagia itu keluar dari rumahnya, dan menuju ke taman. Ia berkata, "Halo, teman-temanku," kepada burung-burung gereja yang sedang sibuk.

"Halo, Singa yang Bahagia," balas burung-burung gereja itu. "Lalu singa itu berkata "Halo, temanku" kepada sesekor tupai merah yang lincah, yang sedang duduk di ekornya dan menggigit buah kenari. "Halo, Singa yang Bahagia," kata tupai merah itu, sambil tetap sibuk menggigit kenari.

Lalu singa yang bahagia itu berjalan ke jalan bebatuan, dan dia berjumpa dengan Tuan Dupont di pojok  jalan. "Halo," kata singa itu, sambil menganggukkan kepala dengan sopan, layaknya seekor singa. "Hooooooooohhh..." jawab Tuan Dupont, lalu pingsan dan jatuh ke jalan pinggir.

"Cara yang aneh untuk mengucapkan halo," kata singa yang bahagia itu, dan dia pun melanjutkan langkahnya dengan caka yang lembut.

Ketika berjalan lebih jauh menyusuri jalanan itu, singa yang bahagia melihat tiga orang wanita yang dia kenal, yang  sering berkunjung ke kebun binatang.

"Bonjour, ibu-ibu," sapa singa itu.

"Huuuuuuuuuuhhhhhh...,"

teriak ketiga wanita itu, sambil berlari seakan-akan ada seorang raksasa yang sedang mengejar mereka.

"Aku tidak mengerti," kata singa yang bahagia itu. "Kenapa mereka berkelkuan bigitu. Biasanya mereka sopan saat bertemu di kebun binatang."

Ketika di dekat toko kelontong singa yang bahagia itu bertemu dengan ibu Pinson, dia kembali menyapa sambil menganggukkan kepala, "bhalo, ibu." "Ooh la la...!" teriak Madame Pinson, lalu melemparkan tas belanjanya yang penuh dengan sayuran ke wajah singa itu.

"A-a-a-a-chooooooo," singa itu bersin. "Aku mulai paham bahwa ternyata orang-orang di kota ini bodoh."

Sekarang singa yang bahagia itu mendengar suara musik mars kelompok militer yang riang. Dia pun berbelok di ujung jalan, dan melihat marching band kota itu sedang berparade di jalanan, di antara dua barisan orang-orang.

Ratatum Ratatata boom boom.

Sebelum singa itu sempat berkata "Halo," suara musik berubah menjadi suara jeritan dan teriakan. Betapa kacaunya. Para musisi dan penonton berlarian dan saling bertabrakan saat mereka berusaha masuk melalui pintu-pintu dan restoran di pinggir jalan untuk bersembunyi. Tidak lama, jalanan pun menjadi kosong dan sunyi.

Singa itu lalu duduk dan merenung. "Mungkin memang beginilah tingkah laku orang-orang saat mereka sedang tidak berada di kebun binatang."

Ia lalu berdiri dan berjalan-jalan lagi untuk mencari seorang teman yang tidak akan pingsan, berteriak panik, atau berlari pergi. Tapi, yang kelihatan  hanyalah orang-orang yang tegang terkecut menunjukkan jari kepada dirinya, dari jendela-jendela dan balkon-balkon yang tinggi.

Tiba-tiba singa itu mendengar suara yang berisik yang baru didengarnya. "Tooootooooot...toootooooot..."

begitulah suara klakson yang berisik itu. Toooootoooottt...toooot...TOOOOOOOOOTTTTTT..." dan suara itu mulai bertambah kencang dan bertambah kencang. "Mungkin itu suara angin," kata singa itu. "Atau mungkin monyet-monyet dari kebun binatang, jika mereka semua berjalan-jalan ke sini."

 Tiba-tiba, sebuah mobil pemadam kebakaranbesar  berwarna merah yang besar muncul dan berhenti, di tepi jalan, tidak jauh dari singa itu. Lalu,  ada sebuah mobil van besar berjalan mundur dengan pintu belakangnya terbuka lebar.

Singa itu hanya duduk dengan tenang, karena dia tidak ingin ketinggalan untuk melihat apa yang akan terjadi. Para petugas pemadam kebakaran turun dari mobil pemadam kebakaran, dan mulai mendekati singa itu, dengan sangat perlahan-lahan, menarik selang besar dari mobil pemadam kebakaran.

Sambil menarik selang pemadam kebakaran mereka yang besar, para pemadam kebakaran itu mulai mendekat, dan semakin dekat, dan semakin dekat. Selang pemadam kebakaran itu merayap seperti seekor ulang yang panjang, dan semakin panjang, dan semakin panjang.

Tiba-tiba, di belakang singa itu,

ada suara kecil yang berteriak, "Halo, Singa yang Bahagia." Itu adalah Francois, anak dari penjaga kandangnya, yang sedang dalam perjalanan pulang dari sekolah! Dia melihat singa itu, kemudian berlari mendekatinya. Singa yang bahagia itu merasa SANGAT BAHAGIA

karena bertemu dengan seorang teman yang tidak berlari ketakuan, dan bahkan berkata "Halo," sehingga dia lupa tentang para petugas pemadam kebakaran yang ada di situ.

Singa itu tidak pernah tahu apa yang sebenarnya akan dilakukan oleh para pemadam kebakaran itu, karena Francois menyentuh  tangannya di rambut kepala singa itu, dan berkata "Ayo berjalan bersama kembali ke taman." "Ya, ayo," dengkur singa yang bahagia itu.

Lalu, Francois dan singa yang bahagia berjalan kembali menuju kebun binatang. Para petugas pemadam kebakaran mengikuti di belakang, dengan menaiki mobil pemadam kebakaran mereka. Akhirnya, orang-orang yang melihat dari atas balkon-balkon dan jendela-jendela yang tinggi berteriak "BONJOUR, SINGA YANG BAHAGIA!"

Sejak saat itu, singa yang bahagia itu menerima camilan enak dicadang  oleh kota tempat tinggalnya itu kepadanya. Tapi, jika anda membuka pintu tempat tinggalnya, dia tidak keluar  ke kota lagi. Singa itu lebih senang duduk di taman batunya, sementara dari seberang parit,Tuan Dupont, ibu Pinson, dan semua teman lamanya tampil  lagi sambil bersikap seperti orang sopan dan rasional, untuk berkata Halo, Singa yang Bahagia." Tapi, singa itu paling bahagia saat dia melihat Francois datang melewati taman, dalam perjalanannya pulang dari sekolah setiap sore hari.

Singa itu lalu berdesir ekornya karena gembira, karena Francois akan selalu menjadi teman tersayangnya.

~ACHIR~