Lokomotif Kecil Yang Bisa, terjemahan dari “The Little Engine That Could” oleh Bayumurti Dwi Akoso, sponsor Yayasanhalim.org 2016

Chug  chug  chug. Puff  puff  puff. Sebuah kereta kecil berjalan menyusuri rel. Dia adalah kereta kecil yang ceria. Gerbongnya penuh terisi berbagai barang bagus untuk anak laki-laki dan perempuan. Ada berbagai jenis hewan mainan. Ada jerapah dengan leher panjang, boneka beruang tanpa leher, dan bahkan bayi gajah. Ada berbagai jenis boneka. Boneka dengan mata biru dan rambut kuning, boneka dengan mata cokelat dan rambut cokelat, dan mainan badut terlucu yang pernah kamu lihat. Ada truk mainan, pesawat terbang, dan kapal. Ada buku-buku bergambar, games, dan drum yang bisa dimainkan. Kereta kecil itu membawa semua jenis mainan yang mungkin dapat diinginkan oleh anak laki-laki atau perempuan.

Tapi itu belum semuanya. Kereta kecil itu juga membawa berbagai hal yang baik untuk dimakan. Jeruk yang bulat dan besar...apel yang merah...pisang yang kuning dan panjang...susu segar yang dingin...dan permen lolipop untuk dimakan setelah makan malam. Kereta kecil itu membawa semua barang itu ke sisi lain dari gunung. "Anak laki-laki dan perempuan pasti akan senang sekali bertemu aku!" kata kereta kecil itu. "Mereka akan menyukai semua mainan dan makanan yang kubawa." Tapi tiba-tiba kereta kecil itu berhenti. Dia tidak bergerak sama sekali. "Aduh," kata kereta kecil itu. "Ada masalah apa ini?" Dia mencoba untuk berjalan lagi. Dia mencoba dan terus mencoba. Tapi roda nya tidak mau berjalan. "Kami dapat membantu," kata binatang-binatang mainan. Badut dan berbagai hewan mainan memanjat keluar dari gerbong mereka. Lalu, mereka mencoba untuk mendorong kereta kecil itu. Tapi dia tidak bergerak. "Kami juga dapat membantu," kata para boneka. Dan mereka pun keluar dan mencoba untuk mendorong. Kereta kecil itu tetap tidak

bergerak. Para mainan dan boneka tidak tahu lagi harus berbuat apa.

Saat itu lah ada lokomotif yang baru dan mengkilap datang melewati trek lain. "Mungkin lokomotif itu dapat membantu kita!" teriak badut. Ia lalu mulai mengibarkan bendera merah. Lokomotif yang baru dan mengkilap itu memperlambat lajunya. Para boneka dan mainan memanggilnya. "Mesin kami macet," kata mereka. "Tolong tarik kereta kami melewati gunung. Jika anda tidak membantu kami, anak laki-laki dan perempuan tidak akan memiliki mainan atau makanan yang baik." Lokomotif yang baru dan mengkilap itu sedikit ramah. "Kalian meminta aku untuk menarik kalian?" Ia bertanya. "Itu bukan tugasku. Tugasku membawa orang. Mereka duduk di gerbong dengan kursi yang empuk. Mereka melihat pemandangan keluar jendela. Mereka makan di gerbong makan yang baik. Mereka bahkan tidur di gerbong tidur yang bagus. Aku menarik mainan seperti kalian? Aku tidak mau!" Lokomotif yang baru dan mengkilat itu lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Semua mainan dan boneka merasa sedih!

Kemudian badut mainan berseru, "ini ada lokomotif lain yang datang. Dia besar, dan kuat. Mungkin lokomotif yang ini mau membantu kita." Badut lalu melambaikan benderanya lagi. Lokomotif yang besar dan kuat berhenti. Para mainan dan boneka lalu berkata bersama-sama, "Tolong bantu kami, lokomotif yang besar dan kuat. Kereta kami macet. Tapi Anda bisa menarik kami melewati gunung. Anda harus membantu kami. Atau anak laki-laki dan perempuan tidak akan memiliki mainan untuk bermain atau makanan yang baik untuk dimakan." Tapi lokomotif yang besar dan

kuat itu tidak mau membantu. "Aku tidak mau menarik mainan," katanya. "Tugasku menarik gerbong yang penuh dengan batang kayu yang berat. Aku biasa menarik truk-truk besar. Aku tidak punya waktu untuk kalian." Lokomotif yang besar dan kuat itu lalu pergi tanpa berkata apa-apa lagi.

Sekarang kereta kecil sudah mulai bersedih. Dan para boneka dan mainan sudah akan menangis. Tapi badut berseru, "Lihatlah! Lihat! ada lokomotif lain yang datang. Sebuah lokomotif kecil berwarna biru. Dia sangat kecil. Mungkin lokomotif ini mau membantu kita." Lokomotif kecil berwarna biru itu adalah lokomotif yang ceria. Dia melihat badut melambaikan bendera merah dan langsung berhenti. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan simpatik. "Oh, Lokomotif Biru Kecil," teriak para boneka dan mainan. "Maukah Anda menarik kereta kami melewati gunung? Mesin kami macet. Jika Anda tidak membantu kami, anak laki-laki dan perempuan tidak akan memiliki mainan atau makanan yang baik. Hanya melewati gunung saja. Tolong bantu kami." "Oh, astaga," kata Lokomotif Biru Kecil itu. "Aku tidak besar. Dan aku tidak menarik kereta. Aku hanya bekerja di halaman. Aku bahkan belum pernah melewati gunung itu."

 "Tapi kami harus sampai di sana sebelum anak-anak terbangun," kata para mainan dan boneka. "Kami mohon?" Lokomotif Biru Kecil menatap para boneka dan mainan. Dia bisa melihat bahwa mereka semua bersedih. Dia juga memikirkan tentang anak-anak di sisi lain gunung. Tanpa mainan atau makanan yang baik, mereka juga pasti akan bersedih.

Lokomotif Biru Kecil lalu mendekat. Dia lalu menyambungkan diri dengan kereta kecil itu. Para mainan dan boneka kembali naik ke gerbong mereka. Akhirnya Lokomotif Biru Kecil itu berkata, "aku pikir aku bisa naik ke gunung itu. Aku pikir aku bisa. Aku pikir aku bisa." Kemudian Lokomotif Biru Kecil itu mulai menarik. Dia menarik dan menarik. Dia menarik dan terus menarik. Puff puff,  chug  chug, begitulah suara Lokomotif Biru Kecil itu. "Aku pikir aku bisa. Aku pikir aku bisa," katanya. Perlahan-lahan kereta itu mulai bergerak. Para boneka dan mainan mulai tersenyum dan bertepuk tangan. Puff  puff,  chug  chug. Lokomotif Biru Kecil mendaki gunung. Dan sepanjang waktu ia terus berkata, "aku pikir aku bisa, aku pikir aku bisa, aku pikir aku bisa..." Naik, naik, dan naik. Lokomotif Biru Kecil itu mendaki dan mendaki. Akhirnya dia mencapai puncak gunung. Di bawah gunung itu terletak kota tujuan para mainan dan boneka. "Hore! Hore!" teriak para boneka dan hewan mainan. "Semua anak pasti akan sangat senang," kata mainan badut. "Semua karena Anda membantu kami, Lokomotif Biru Kecil." Lokomotif Biru Kecil hanya tersenyum.

Tapi saat ia menuruni gunung, Lokomotif Biru Kecil itu sepertinya berkata... "Aku pikir aku bisa, aku pikir aku bisa, aku pikir aku bisa, aku pikir aku bisa."