Jack dan Pohon Kacang

Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang anak laki-laki yang bernama Jack, dan ibunya. Ayah Jack meninggal ketika ia masih bayi. Jack dan ibunya telah berjuang untuk dapat mencukupi kebutuhan makan dan pakaian mereka sendiri selama bertahun-tahun. Satu-satunya harta yang mereka miliki adalah sapi mereka. Nama sapi itu Milky-White. Ia adalah hewan yang lembut dan patuh, yang oleh ibu Jack digunakan untuk membuat susu manis, mentega, dan keju. Ibu Jack kemudian menjual semua produk susu itu di kota, dan hasilnya cukup untuk hidup mereka berdua.

Jack menyayangi Milky-White. Sapi itu adalah salah satu teman terdekatnya. Milky-White selalu menciumi kepadanya ketika dia akan memerah susunya. Namun setelah satu musim dingin yang sangat ekstrim, Milky-White sakit dan menjadi  kurus. Ia tidak lagi menghasilkan susu yang cukup, sehingga ibu Jack memutuskan untuk menjual sapi itu di kota.

Jack sangat sedih, tapi ibunya bersikap keras, dan dia berkata bahwa mereka akan mendapatkan setidaknya sepuluh shilling dari penjualan sapi itu. Jack kemudian menuntun sapi kesayangannya itu ke kota, dan menawarkannya kepada orang-orang. Ada satu orang yang berminat untuk membeli, tapi ia tampak seperti orang yang kejam. Jack menolak tawaran orang itu karena ia ingin supaya sapinya diurus dengan baik oleh pemilik barunya nanti.

Kemudian ada orang kedua yang mendekati Jack. Ia mengenakan jubah panjang dengan tudung yang sebagian menutupi wajahnya. Ia adalah pria yang misterius, dan ia membawa sebuah tas kecil di tangannya.

"Apakah kamu menjual sapi ini, anak muda?" Tanya pria misterius itu.

"Iya, Pak," jawab Jack. Pria misterius itu berkata bahwa ia tertarik untuk membelinya. Jack kemudian bertanya di mana ia tinggal dan apa pekerjaannya. Pria misterius itu tidak mau banyak bicara, tapi Jack tahu bahwa ia akan menjadi seorang majikan yang baik dan penyayang untuk sapi kesayangannya. Jack pun bersedia menjual sapinya kepada pria itu.

"Saya akan memberikan sapi ini kepada Anda seharga sepuluh shilling," kata Jack. Tapi, pria itu menggeleng kepalanya. Ia hanya sanggup menukar sapi itu dengan satu tas penuh kacang. Jack adalah anak yang cerdik dan tidak bodoh, sehingga ia pun menolak tawaran orang itu untuk menukar sapinya dengan kacang.

"Ah," kata pria misterius itu, "tapi ini adalah kacang yang spesial. Tanam kacang-kacang ini di tanah, dan saya berjanji harta yang berlimpah akan muncul dari tanah." Jack dapat merasakan bahwa pria misterius itu bicara jujur. Ia kemudian mengelus kepala Milky-White, dan memberikan sapi itu kepada pemilik barunya, lalu mengambil satu tas penuh kacang sebagai pembayarannya.

Ketika Jack pulang ke rumah, ibunya marah besar. "Kamu bodoh!" teriak ibunya. "Kamu menukar seekor sapi dengan kacang?" Sebagai hukuman, Ibu Jack pun menyuruhnya masuk ke kamar lebih awal dari biasanya.

 Tapi, sebelum Jack pergi ke kamarnya, ia menyelinap keluar dan menanam salah satu kacang tadi. Ia ingin membuktikan apakah pria misterius tadi mengatakan yang sebenarnya. Pagi harinya, Jack terbangun dan menatap keluar jendela kamarnya. Ia melihat ada sebuah pohon kacang berukuran besar yang telah tumbuh di tempat ia menanam kacang itu. Batang dari pohon itu sebesar rumahnya, dan Jack tidak bisa melihat pucuk dari pohon itu karena terlalu tinggi, hingga menembus awan.

Jack ingat bahwa pria misterius yang memberinya kacang itu berkata "harta yang berlimpah akan muncul dari tanah." Maka Jack pun memutuskan untuk memanjat pohon kacang itu untuk melihat apakah ada harta yang banyak di pucuknya.

Jack mulai memanjat pohon kacang itu. Semakin tinggi, semakin tinggi, semakin jauh, dan semakin jauh dari bumi. Untungnya, Jack tidak takut akan ketinggian. Tapi, semakin ke atas, batang pohon yang dipanjatnya berayun-ayun deras karena terkena angin. Jack pun mulai merasa gugup.

Tepat ketika Jack berpikir bahwa dia tidak bisa memanjat lagi, dia telah mencapai awan. Ketika Jack menyembulkan kepalanya menembus awan, ia melihat sebuah istana yang sangat besar. Ukurannya sepuluh kali lebih besar dibandingkan dengan istana yang ada di daerah tempat ia tinggal. Jack tidak dapat mempercayai apa yang matanya lihat. Ada sebuah jalan kecil dari batu bata dari pohon kacang yang menuju ke istana itu. Jack pun mengikuti jalan kecil itu, kemudian menyelinap masuk ke istana melalui sebuah celah yang ada di pintu. Ia pun mulai menjelajahi istana itu.
 
Jack jadi sangat lapar setelah memanjat pohon kacang yang begitu tinggi. Ia mencium aroma yang sangat lezat, yang berasal dari dapur. Ia pun mengikuti aroma yang lezat itu. Saat masuk ke dapur, ia bertemu dengan seorang wanita raksasa.

"Seorang anak kecil!" kata wanita raksasa itu dengan suara yang menggelegar. "Mungkin aku akan memasakmu di dalam oven untuk sarapan." Jack meminta dan memohon supaya ia tidak dimasak. Wanita raksasa itu merasa kasihan, kemudian memutuskan untuk memasak telur saja untuk sarapan. Jack merasa bersyukur karena tidak jadi dimasak. Wanita raksasa bahkan memberinya sepotong kecil dendeng sapi untuk meredakan laparnya. Saat itu lah tiba-tiba Jack merasa tanah berguncang.

Sebuah suara yang dalam dan keras keluar dari dalam istana itu. “Fee… Fi… Fo… Fum…! Aku mencium bau seorang anak laki-laki, enak dan muda!"

Wanita raksasa itu dengan cepat mengambil Jack ditapak tangannya dan menyembunyikannya di dalam oven sehingga suaminya tidak akan menemukannya. Ketika raksasa itu masuk ke dapur, ia bertanya di mana anak laki-laki yang baunya tadi diciumnya. Istri raksasa menyangkal bahwa ada anak laki-laki di dapur itu, kemudian membuatkan telur dadar berukuran besar untuk mengalihkan perhatiannya.

"Tidak ada anak laki-laki di sini," kata wanita raksasa itu, sambil memberikan piring berisi telur dadar ke suaminya. Raksasa itu kemudian memakan telur dadarnya dengan satu gigitan besar. Ia lalu meminum satu galon jus jeruk dan memasukkan tiga roti bakar bermentega berukuran besar ke dalam mulutnya. Saat ia makan, dua buah koin emas jatuh dari kantungnya dan berserakan di lantai dapur. Ketika raksasa dan istrinya pergi meninggalkan dapur, Jack cepat-cepat keluar dari oven. Ia sangat takut dengan raksasa yang jahat dan ingin buru-buru memanjat turun kembali ke bumi. Tapi, sebelum pergi, Jack dengan cepat mengambil dua koin emas yang jatuh tadi. Jack melemparkan dua koin emas itu turun kebawah, baru kemudian memanjat pohon kacang itu untuk turun kembali ke rumahnya. Saat ia tiba di bawah, ia disambut oleh ibunya, yang sedang mengamati koin emas besar yang ditemukannya dengan ekspresi yang bercampur antara kaget, senang, dan bingung.

Jack bercerita kepada ibunya bahwa di atas awan ada dua raksasa yang tinggal di sebuah istana. Ibunya mempercayai cerita itu, karena melihat sendiri koin emas yang dibawa oleh Jack.

Koin emas yang dibawa Jack cukup untuk hidup berdua dengan ibunya untuk cukup lama. Tapi pada akhirnya, Kekayaan habis. Pada suatu malam, ibu Jack memintanya untuk kembali memanjat pohon kacang dan mencari koin emas lagi. Jack gugup, tapi ia dan ibunya membutuhkan uang untuk makanan. Jadi kesokan pagi, Jack memanjat pohon kacang raksasa itu. Semakin tinggi dan semakin tinggi, semakin jauh, dan semakin jauh dari bumi.

Saat Jack tiba di pucuk pohon kacang itu, istana raksasa masih ada di sana. Jack kemudian masuk dengan hati-hati. Ia mengendap-endap masuk ke dapur, dan mencari koin emas lagi. Tiba-tiba Jack terangkat ke udara. Ternyata istri raksasa telah memergokinya, dan mengangkatnya tinggi-tinggi dengan menarik mantelnya. Jack pun dapat melihat langsung ke kedua mata istri raksasa itu. "Kamu mencuri dari suamiku!" teriaknya. "Sekarang, aku benar-benar akan memasakmu untuk sarapan!"

Jack memohon nyawanya diampuni. Ia berusaha untuk meyakinkan istri raksasa bahwa ia tidak mencuri koin emas.

"Suamimu pasti telah menghilangkan koin-koinnya. Aku tidak akan pernah mencuri." Istri raksasa curiga sebelumnya, tapi Jack terdengar tulus dan jujur. Ia pun melepaskannya.

"Fee ... Fi ... Fo ... Fum ...!" Mereka mendengar suara raksasa. "Aku mencium bau seorang anak laki-laki, lezat dan muda!"

Sekali lagi Istri raksasa buru-buru meraih Jack dan menyembunyikannya di dalam oven. Kali ini, raksasa masuk ke dapur membawa seekor ayam betina berwarna merah. Setelah raksasa selesai makan sarapannya, yang terdiri dari biskuit dan dendeng sapi, ia menoleh ke ayam itu, kemudian berkata "Bertelur!" Ayam itu lalu menelurkan sebutir telur emas, yang langsung diambil oleh raksasa. Jack tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Sang raksasa kemudian memesan istrinya untuk menggunakan telur emas itu untuk membeli dendeng sapi lagi. Lalu, mereka pun pergi. Sebelum meninggalkan dapur, istri raksasa melihat ke arah Jack yang masih bersembunyi, kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. Jack mengerti bahwa itu peringatan baginya untuk tidak mencuri ayam ajaib berwarna merah itu. Tapi Jack tidak menuruti peringatan istri raksasa. Ia belum pernah mendengar bahwa ada ayam yang bisa menelurkan telur emas, jadi sebelum ia pergi meninggalkan istana, ia merebut ayam itu dan mengapitnya di bawah lengannya, baru kemudian memanjat turun ke rumah ibunya.

Ibu Jack tidak senang saat ia melihat anaknya pulang dengan membawa seekor ayam. "Kamu anak bodoh," katanya. "Kamu tidak membawa koin emas, tapi malah membawa seekor ayam betina?" Jack kemudian berkata kepada ayam itu. "Bertelur!" Dan ibunya pun takjub saat melihat ayam betina itu menelurkan telur-telur emas. Ibu Jack gembira luar biasa dan meminta maaf kepada anaknya karena tadi telah berbicara kasar kepadanya. Jack dan ibunya tahu bahwa mereka tidak akan menjadi orang miskin lagi. Mereka lalu mampu membeli rumah baru, pakaian baru, dan makanan pesta yang berlimpah. Jack bahkan membeli sapi lagi untuk dirawatnya.

 Walaupun sudah menjadi orang kaya, Jack tetap ingin sekali kembali ke istana raksasa. Ia merasa bosan di rumah barunya, dan ingin merasakan serunya petualangan. Jadi, pada suatu pagi, Jack memutuskan untuk kembali memanjat pohon kacang hingga ke pucuknya. Ia pun memanjat, semakin tinggi, dan semakin tinggi, semakin jauh, dan semakin jauh dari bumi. Saat sedang memanjat, Jack bertanya-tanya, apa lagi yang akan ditemukannya di istana raksasa itu. Apakah ia akan menemukan jenis unggas lain yang bisa menelurkan telur-telur emas? Atau mungkin ayam yang bisa menelurkan berlian? Jack juga tahu bahwa ia nantinya harus menghindari kedua raksasa itu, karena istri raksasa pasti sudah tahu bahwa Jack lah yang mencuri ayam ajaib suaminya. Dan jika kali ini ia menangkapnya, ia sudah pasti akan dimasak untuk sarapan.

Istana raksasa tampak sepi saat Jack masuk ke dalam. Kelihatannya kedua raksasa sedang pergi. Tapi kemudian, Jack mendengar suara musik yang indah yang datang dari sebuah kamar di lantai atas. Ia pun mengendap-endap menyusuri lorong, dan melihat sang raksasa sedang memainkan harpa emas. Alat musik itu tidak hanya mengeluarkan suara musik yang indah, tapi juga bernyanyi. Musik itu begitu indah sampai raksasa tertidur di kursinya selagi musik masih main. Dengan berani Jack masuk ke dalam kamar dan merebut harpa emas itu. Saat ia sedang membawanya menyusuri lorong, tiba-tiba harpa emas itu berteriak, "Tuan! Tuan, selamatkan saya!"

Jack sudah berhasil melewati pintu istana sebelum raksasa terbangun oleh suara teriakan harpa emas. Merasa ketakutan, Jack melemparkan harpa emas itu ke bawah saat ia mendengar dentuman suara langkah raksasa yang mengejarnya. Dengan sangat cepat Jack lalu memanjat pohon kacang ke bawah. Raksasa itu mengikutinya. Tapi, Jack berhasil sampai di bawah lebih dahulu.

Saat tiba di bawah, Jack lalu berlari ke dalam lumbung dan mengambil kapak terbesar yang ada di sana. Ia lalu mulai memotong batang pohon kacang itu dengan cepat dan dengan sekuat tenaga. Tepat saat raksasa mulai terlihat di antara awan, Jack telah berhasil memotong pohon kacang itu. Batang pohon kacang raksasa pun jatuh ke tanah dengan suara yang dahsyat, begitu juga dengan raksasa yang sedang memanjatnya. Raksasa pun meninggal seketika. Jack dan ibunya sangat senang dengan harpa emas baru mereka, dan mereka pun hidup kaya raya sepanjang hidup mereka.

~ Achir ~